Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Oktober 2013

sumber gambar : http://catatankecilnovriana.files.wordpress.com

Pada suatu siang yang cerah Si Kancil sedang merumput sendirian di tepi sungai. Tanpa disadarinya, ada seekor induk Ayam Hutan yang muncul dari semak-semak sambil bernyayi. Dia tampak riang sekali.

“Naik..naik..ke puncak gunung..tinggi..tinggi sekali....” Sang induk Ayam Hutan menyanyi dengan merdunya sambil memutar-mutarkan badannya, menari-nari dan sambil memejamkan mata. “Kirii..kanan..kulihat saja..banyaaaak...”

“Brukkk !!!!” Tiba-tiba dia terjatuh. Dia menabrak badan si Kancil dari belakang. Begitu juga Si Kancil yang hampir saja jatuh ke sungai. Dia tidak mendengar suara induk  Ayam Hutan menyanyi  karena suara deburan air yang mengalir di sungai sangat deras.

Rabu, 02 Oktober 2013


 
Sumber Gambar ; Google

Awalnya aku sangat menolak masuk ke sebuah institusi yang bernama "Pondok Pesantren".  Itu sangat bertolak belakang dengan keinginan, impian dan kebiasaanku ketika duduk di SMP. Kenyataannya, baik ayah maupun ibu benar-benar memarahiku dengan amat sangat, secara verbal maupun non-verbal, setelah pengumuman kelulusan SMP. Aku tidak diberi uang saku, tidak disapa selama berhari-hari. Aku kehilangan beberapa priviledge-ku.

"Pilihannya hanya ada dua, mondok atau tidak sekolah sama sekali !!!!" kata ayah sewaktu memarahiku.
"Ibu dan ayah sudah capek! Beribu-ribu kali bolak-balik ke sekolah hanya untuk mendengar laporan tentang kenakalanmu!" ucap Ibu.

Rabu, 04 September 2013



Cerpen ini pernah diikutkan dalam lomba menulis cerpen faber castell Indonesia. Sama halnya dengan cerpen saya Akibat Overdosis Tugas.

Sayangnya, keduanya tidak memenangkan juara.... 




Selasa, 13 Agustus 2013



Sumber : Google.com

Suatu siang kakak saya SMS begini “Cang, sudah ditransfer 2rts... “

“Alhamdulillaah...” saya membatin. Hati saya mengucap syukur teramat dalam. Jelas saya senang sekali. Karena sudah tidak punya uang sama sekali. Segera saya mengetik key-pad Hp hendak membalas SMS dari Sang Kakak.

“Alhamdulillaah..Terima kasih banyak, Kak…”

Sayangnya, SMS saya itu gagal terkirim walaupun sudah saya coba kirim ulang sampai tiga kali. Saya lupa kalau  pulsa saya sudah habis sejak kemarin. Andai saja saat itu sedang tidak kuliah, pasti saya langsung lari ke ATM.

Sabtu, 27 Juli 2013


          Dia adalah orang yang selalu bercermin. Ke mana pun ia pergi, ia tak pernah lupa untuk membawa cermin. Dalam satu hari, ia bisa bercermin sampai lebih dari sepuluh kali. Ia ingin selalu tampil rapi dan sedap dipandang mata. Ia tidak ingin melihat noda setitik pun menempel di badannya yang dapat merusak penampilannya. Ia tidak ingin posisi rambutnya berubah sedikit pun karena terpaan angin. Maka dari itu, untuk menjaganya ia tak henti-hentinya bercermin.

Senin, 20 Mei 2013

Ini adalah cerpen saya yang telah saya ikutkan pada lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Faber Castell Indonesia. Hanya saja, saya tidak meraih juara apa-apa. Tidak apa-apa. Yang menjadi juri program ini adalah Raditya Dika, beberapa dari Forum Lingkar Pena (FLP ), dan dari pihak Faber Castell itu sendiri.




Sabtu, 18 Mei 2013




" Ayo, Noul nang kantin !....jare ate ngopi....????" ajak Ms Bengek ke Mas Noul.
"Iyo, sek.....le..." jawab Mas Noul dari dalam sekret.
"Nyusul yo Noul !!!...." Mas Jukok agak memaksa.
"Iyo...iyo...." jawab Mas Noul.

Sebenrrnya saya agak lupa tentang peristiwa ini, awalnya gimana, dan kapan terjadinya. Lupa-lupa ingat ! Yang saya inget, yang pasti, waktu itu lagi rame di sekret. Lagi banyak orang !!! Saya sendiri juga ikut gabung dalam kerumunan orang2 di sekret walaupun sambil ngetik tugas. Mereka membicarakan beraneka topik. Rame dah pokoknya ! Saya aja cekakakan mendengar obrolan mereka....samapi-sampai, saya mengetik apa yang mereka omongkan....

Sebut saja namanya Pramu. Dia lelaki yang masih duduk di bangku SMP.

“Jeplak !!!!” 

Dia dipukul oleh ibunya dari belakang, menggunakan sebatang kayu pipih, tepat mengenai pahanya. Pramu langsung lari kocar-kacir, tidak berani menatap wajah ibunya sama sekali. Ibunya mengejar-ngejar dia sambil mengacung-acungkan kayu itu. 

“Ayo, waktunya sholat !!!!!! Dari tadi disuruh sholat…..gak sholat-sholat !!!!! Main terus !!!!!  Ayo, berhenti mainnya !!!! Ayo cepet masuk !!!!” Ibunya benar-benar marah. Pasalnya, ibunya sudah menyuruhnya berkali-kali, tapi Pramu tidak mengubrisnya. Dia tetep asyik bermain sepak bola di jalan di depan rumah bersama teman-temannya.