Ketika aku suka akan suatu hal, aku cenderung dan memang lebih suka menceritakan ke orang lain hanya hal-hal baiknya saja ( dari apa yang aku sukai tersebut ).
Sekalipun aku sadar bahwa apa yang aku suka tersebut memiliki
kekurangan dan keburukan, tetapi kau cenderung tidak peduli akan
kekurangan dan keburukannya. Semua terlihat dan terasa indah nan
menawan. Karena, Tuhan telah mengajarkan bahwa tiada yang sempurna
kecuali Dia sendiri Yang Maha Sempurna, Nabi Muhammad SAW, Islam, dan
Al-Qur'an.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Oktober 2013
Kamis, 15 Agustus 2013
10.02
No comments
Saya mendapat SMS dari
Ceu Mimin, isteri kakak saya. ( Ceu
berasal dari Euceu : kata sapaan
untuk kakak perempuan, berasal dari bahasa Sunda. Setara dengan Tétéh atau Mbak ).
“Cang, ayeuna ganti Ceu
Endeung nu sokan kapalingan. Ker poe Senen ge duitna leungit sajuta di lamari.” ( Cang,
sekarang gantian Ceu Endeung yang suka kepalingan uang. Pada hari Senin uangnya
hilang satu juta di lemari ) Itu
SMS dari Ceu Mimin, yang masuk ke HP saya pada 14 Agust 2013, 17:54:21. Jelas
saya kaget mendengarnya sekaligus merasa sangat bersedih. (Ceu Endeung adalah
kakak sepupu saya)
Leungit (Bahasa Sunda)
= Hilang, Kaleungitan = Kehilangan
Rabu, 31 Juli 2013
18.27
No comments
Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata “Perempuan Perkasa”?
Siapakah perempuan perkasa menurut Anda ?
Seperti apakah perempuan perkasa itu menurut Anda ?
Siapakah perempuan perkasa menurut Anda ?
Seperti apakah perempuan perkasa itu menurut Anda ?
Bagi saya, ketika mendengar kata “Perempuan Perkasa”, saya langsung teringat kepada sebuah puisi dan penjual jamu. Ya, puisi yang terdiri tiga bait berjudul “Perempuan – Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya. Kenapa ? Begini ceritanya. Pertama kali saya membaca puisi itu adalah di buku pelajaran Bahasa Indonesia ketika saya duduk di kelas V SD. Nah, di sebelah puisi itu ada gambar seorang ibu yang sedang menggendong jamu. Waktu itu, perempuan perkasa menurut saya adalah perempuan pekerja keras seperti penjual jamu.
Sabtu, 27 Juli 2013
05.27
No comments
Setiap kali saya mendengar kata "belajar", yang ada dalam pikiran
saya adalah belajar pelajaran sekolah. "Belajar" dilakukan di rumah
sepulang sekolah. Dulu, biasanya saya belajar malam hari sepulang dari
mengaji. Sebelum belajar dimulai, saya selalu menyiapkan buku pelajaran
untuk esok hari di sekolah. Saya periksa buku satu-satu sebelum
dimasukkan ke dalam tas, khawatir ada PR yang belum dikerjakan. Jika ada
PR, langsung saya kerjakan dan jika tidak maka saya belajar.
Senin, 20 Mei 2013
19.15
1 comment
Beberapa waktu lalu saya curhat
kepada seorang teman dekat. Mengapa ya, saya itu selalu bingung melihat
orang yang menilai saya, seperti saya ini sedang mengikuti sebuah kontes. Waktu
kemudian menjadi pendek, orang komentar lagi. Waktu pakai poni lempar alias polem, jeritannya lebih keras lagi.
Aku
Waktu mulut dan tulisan saya setajam silet dan banyak yang
berdarah-darah karenanya, orang mengumpat, mencerca, dan mengutukinya. Yang
membela hanya mereka yang sejujurnya berkeinginan mencerca orang yang sama saya
cerca, tetapi buang body karena
mungkin takut menyuarakan pendapat mereka.
Dan dukungan mereka itu, saya anggap sebagai sebuah bentuk
terima kasihkarena saya sudah menjadi corong suara hati mereka. Dan waktu saya
mulai menyadari perbuatan tidak baik itu dan berusaha sedemikian rupa untuk
menguranginya, ada suara bernyanyi bak paduan suara. Keras dan bergempita.
“Samuel sekarang, dah gak ada taringnya.”
Ketika kehidupan saya kacau balau, ketika saya memiliki
hubungan asmara mereka mengatakan, “Orang tak punya moral, pantaslah dapat gagal
ginjal. Syukurin.” Dan setelah peristiwa gagal ginjal itu, saat saya berjanji
dengan Tuhan bahwa saya mau berusaha keras untuk hidup di jalan-Nya, paduan
suara itu berkumandang lagi. “Bilangin
tuh. Kalau udah maksiat, maksiat
aja, enggak usah sok alim.”
Dan pada saat saya berada pada periode kealiman itu, saya
membentuk sebuah persekutuan do’a yang super kecil dengan jumlah anggota yang
tak lebih dari lima jari, dan sampai hari ini bisa bertahan selama lebih dari
tujuh tahun, suara nyaring masih ada yang mendendangkannya. “Kalau udah bertobat enggak usah mendadak jadi
kayak orang suci.”
Sampai di suatu siang yang mendung itu, saya bertanya kepada
teman saya itu. “Sebetulnya kita itu hidup buat nyenengin diri sendiri apa orang lain, ya? Mengapa orang lain merasa
repot sekali kalau saya melakukan hal yang berbeda dengan mereka? Apa salahnya
kalau ada orang jahat bisa menjadi lebih baik? Mengapa kalau saya jahat mereka
mengumpat, waktu saya baik umpatannya masih ada saja?
Teman saya tampak tidak tertarik dengan diskusi yang menurut
dia cukup berat. Apalagi udara lagi adem dan nyaman untuk tidur, atau paling
tidak, suasana seperti ini bukan untuk didedikasikan untuk untuk sebuah
pertanyaan yang membutuhkan diskusi
panjang dan lebar, yang bisa jadi berakhir dengan otot dan syaraf yang
tegang. Ia hanya berujar, “Yaaah...elo
kan juga enggak ada bedanya ama
mereka. Elo juga bawel kalau lihat ada orang yang beda ama elo?”
Kamu
Setelah pertemuan di hari mendung itu, saya kembali teringat
dengan cerita di atas, gara-gara seorang bertanya, “Elo tau gak sih, tujuan elo
itu diciptakan di dunia?” Waktu pertanyaan itu masuk ke gendang telinga dan
dikirim ke otak secara tiba-tiba, saya gelagapan. Bingung untuk menjawabnya.
Tepatnya tidak tahu jawabannya. Saya hanya berpikir dari sejak dahulu bahwa
sebagi manusia, saya tak punya tujuan selain dengan apa yang di sebut dengan
cita-cita.
Saya belajar dengan tujuan untuk memenuhi keingina orangtua
supaya bisa pandai dan mendapat ijazah, padahal sejak saya berusia tujuh tahun
saya sudah protes kepada ibu mengapa saya harus sekolah, padaha sekarang ada
yang namanya home schooling. Saya
membuat pekerjaan rumah buat dosen saya karena beliau sudah menginstrusikan
untuk melakukan itu. Daripada saya dihukum, ya saya mengerjakan pekerjaan rumah
yang tak saya sukai itu. Apa boleh buat.
Saya membayar tagihan kartu kredit, pajak, dan lain-lainnya
karena memang harus demikian adanya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau.
Jadi, selama ini saya berbuat sesuatu untuk orang lain. Karena ketika saya
bercita-cita tidak mau masuk jurusan IPA, ayah saya berteriak dengan alasan
yang masuk akal untuk masuk IPA. Padahal, saya tersiksa sekali meski
akhirnya bisa lulus. Kadang saya saja
masih suka bingung kok saya ini bisa lulus SMA. Buat saya itu sebuah keajaiban
dunia.
Saya malah berpikir, kalau pertanyaan itu sebaiknya diajukan
untuk Sang Pencipta. Kan seperti perancang apa pun dan di mana pun, mereka
selalu memiliki alasan atas apa yang mereka ciptakan. Bukan ciptaannya yang
ditanyai tujuan mengapa mereka dibuat, bukan?
Maka, kalau saya bingung ada orang yang selalu menilai saya,
mungkin sekarang saya baru tahu tujuan saya diciptakan itu adalah untuk dinilai
bak dalam kontes. Dan kalau itu membuat kepuasan batin mereka atau
membahagiakan mereka karena ada yang bisa dipakai sebagai materi obrolan sore
hari sambil menyeruput teh hangat, ya........ mau apalagi.
Di suatu sore, saya dan dua teman sedang mengobrol soal
segala macam, sampai pada protes saya di atas. Seorang teman yang sudah berusia
setengah abad lebih tujuh tahun mengatakan begini, “Sudah enggak usah dipikirin. Manusia itu ya.....seperti
itu. Sekarang ini yang utama adalah menyenangkan orang lain. Merka, dan bukan
kamu, kamu dan kamu.”
06.38
No comments
Teman saya, seorang ibu dengan satu anak, belum lama ini
berhasil mendaki puncak Gunung Kinabalu. Jika Anda melihat sosoknya saja,
rasa-rasanya saya bisa tahu Anda akan menghakiminya sebagai perempuanlembek
yang akan roboh segera jikaditiup angin.
Nah, itulah saya. Mungkin sama seperti Anda suka tertipi
dengan apa yang dilihat mata. Dan jeleknya saya menghakimi melalui yang saya
lihat dengan mata yang acap kali sudah
terbukti banyak kelirunya, tetapi tetap saja dilakukan. Jika kata orang
jangan melakukan kesalahan yang sama, itu tampaknya tidak berlaku untuk saya.
“Yeaayy right”
Sejak masa SMP dahulu, ayah saya menggembleng anak-anaknya
melakukan aktivitas mendaki gunung. Jadi, dengan badan kurus dan nyaris tak
berdaya ini, saya sudah mendaki beberapa gunung di Bali termasuk Gunung Agung
yang tertinggi. Katanya untuk melatih mental dan penguasaan diri. Menurut Ayah,
mental anak-anaknya kayak tempe. Jadi, harus digembleng. Saya tak pernah
bertanya apakah ayah saya pernah mendaki, yang jelas anaknya yang harus
melakukan itu.
Ya begitulah orang tua. Jika yang tak bisa mereka lakukan
dan cita-citakan tak kesampaian, anaknya menjadi sasaran empuk. Dan jika
anaknya protes, suara macam begini yang didengar. “Supaya kamu bisa kuat.
Percaya sama nasihat orang tua. Orang tua itu selalu membuat hal-hal baik buat
anaknya.” Kalau sudah begitu, hati saya bersuara, “Yeayy right.” Kemudian
dilanjutkan dengan suara begini, “Baik di elo kan belum tentu baik di gue.”
Namun, apa daya anak hanya bisa berpasrah dan bersuara tanpa suara di dalam
hati bukan ?
Maka ketika melihat teman perempuan mendaki, saya malah
salut kepada teman saya itu. Sebab, sebagai orang tua dengan satu anak, dia tak
menyuruh anaknya mendaki, tetapi dirinya sendiri sebagai perempuan dan ibu.
Saya tak tahu apakah karena statusnya sebagai orangtua tunggal (single parent)
sehingga ia melakukan ini untuk melatih diri, mental, dan penguasaan diri yang
bisa jadi berguna dalam kehidupan sehari-hari, yang ancamannya sebagai single
parent juga tak kalah banyak seperti rintangan saat mendaki gunung.
Melihat teman saya itu, saya kemudian belajar. Jika menjadi
orang tua, harus berani melatih diri. Tidak hanya mendaki, tetapi juga terbuka
pada keadaan yang tidak statis di sekitar hidupnya. Saya jadi teringat kepada seorang teman yang
bekerja sebagai training manager di
sebuah toko swalayan. Ia mengatakan,
“Sebelumnya saya jadi pramuniaga, Mas. Dari bawah banget.
Sarang baru
Saya membalas pesannya dengan mengatakan memang seharusnya
demikian. Jika tak merasakan situasi di lapangan, bagaimana bisa melatih anak
buah kelak. Maka, sama seperti teman perempuan saya, sebelum ia berteriak dan
menjerit atau dengan suara halus menasihati anaknya, ia sendiri juga harus
mengalami apa yang akan disampaikan kepada anaknya. Supaya apa yang disampaikan
tidak akan terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk dijadikan standar kekuatan
mental anaknya. Sebab, ia sendiri tahu bagaimanakeadaan sesungguhnya di
lapangan. Di lapangan yang bernama kaki gunung, yang dilihat dari jauh begitu indah,
tetapi ketika didekati alangkah besar rintangnannya.
Maka, seperti pemikiran saya di atas, keindahan itu seperti
menghakimi seseorang secara kasat mata saja. Saya tak pernah tahu apa yang
terjadi di dalamnya. Keindahan itu mengandung perjuangan yang kadang mematahkan
asa. Standar yang diterapkan untuk anak bukan karena orangtua melihat standar
orang lain, bukan mendengar dan mengikuti eksekusi nasihat sesama orangtua,
melainkan berdasrkan pengalamannya sendiri kemudian memasang strategi untuk
diterapkan kepada buah hatinya. Karena acap kali saya mendengar buah hati
protes tak setuju kemudian lari keluar
untuk mencari persetujuan di tempat alin.
Maka, kalau saya ingat kembali bagaimana orangtua saya
mendidik, selalu saja membangkitkan rasa amarah. Bukan karena saya mau berlaku
tidak hormat, sebaliknya saya sangat menghormati. Akan tetapi, di kepala
orangtua acap kali kalau anak tak mau mengikuti berakhir dengan orang tua naik
pitam atau menghakimi saya sebagai anak kurang ajar.
Nah, saya sebagai anak hanya bisa berpikir kalau kata kurang
ajar itu sepantasnya dicetuskan bukan karena anak tidak mengikuti nasihat
orangtua, melainkan karena anak tidak dihormati sebagi individu. Saya memang
anak, tetapi saya juga seorang individu. Seorang individu berhak mengungkapkan
pemikirannya bahkan sebuah pemikiran yang di mata orangtua adalah pemikiran
yang sok tahu, yang jauh dari jam terbang yang tinggi.
Buat saya, cinta yang sering digemborkan orangtua seyogianya
tidak menimbulkan kepahitan bagi yang dicintai hingga yang dicintai terbang ke
luar sarangnya dan bertengger di sarang orang lain.
Tulisan ini karya Samuel Mulia yang dimuat di koran KOMPAS, Minggu, 3 Maret 2013 di kolom Parodi halaman 27. Saya tulis ulang
persis dengan teks aslinya. Alasannya adalah karena tulisan ini bagus dan penuh
pembelajaran.
Minggu, 18 November 2012
04.30
No comments
Saya setuju dengan pernyataan yang seperti ini "SERUAN, AJAKAN, ATAU PERINTAH TIDAK AKAN TERWUJUD JIKA TIDAK DIIRINGI DENGAN TINDAKAN DARI SI PENYERU ATAU SI PENGAJAK TERSEBUT, SEKALIPUN DIA BERKOAR-KOAR DALAM MENYERUKAN AJAKAN ITU"
Beberapa hari kemarin di
otak saya ada yang berputar-putar gak jelas, yaitu sedikit ide tentang sedikit
cara mengurangi sampah di sekitar kita, dunia pada umumnya. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)

