Senin, 01 April 2013



Ketika aku sedang menulis cerita ini, aku baru saja sampai di kamarnya Mas Dwi. Aku baru pulang dari menonton pertunjukkan wayang kulit di kampus. Ketika tulisan ini selesai kuketik, aku masih belum tahu dalam rangka apa Fakultas Sastra mengadakan acara itu. 

Sebelum aku menonton wayang, aku facebook-an di gazebo belakang bersama saudaraku Si Monyong ( Nurhadi ). Iya, itu panggilan akrab di antara kami ( dia juga memanggil aku “Monyong” ). Padahal bibirku gak monyong, yang ada juga bibirnya dia yang monyong ( Maaf ya Nyong aku telah membongkar rahasiamu ! he he he). Entah bagaimana ceritanya, aku tidak inget betul, kata sapaan itu telah menjadi trade-mark bagi kami. 

Aku begitu asyik fb-an.Sampai-sampai acara wayang itu sudah dimulai, baik aku maupun Si Monyong masih tetep melototin fb masing-masing. Aku melihat banyak status teman-teman berbunyi senada, membicarakan “malam minggu”. Ada yang malming sendirian, ada yang mau ngapeli pacarnya tapi dia mau menghadiri acara lain terlebih dahulu, ada yang nungguin pacarnya tapi gak datang-datang, ada yang sedang menghadiri acara hiburan bersama pacarnya, dll. Kalo aku tuliskan, kurang lebih sperti ini bunyi status beberapa teman-teman itu. 

“ Malming cendirian...”

 “ Huft, kok dia gk dteng2 ya.....???”

 “Sebelum malmingan, w k acara ntu dulu ah...” 

 “Wuihhh...hiburannya seru bgt...bersama-Nama Pacarnya” 

Aku menulis status di fb tiga kali (kalo tidak salah). Setelah puas fb-an, karena bingung mau up date status apalagi, ditambah baterai laptopnya yang sudah lemah, barulah aku pergi menononton wayang kulit yang digelar di halaman depan Fakultas Sastra. 

Semua orang yang menonton pertunjukkan wayang kulit itu mendapatkan konsumsi, satu kotak kue dan segelas aqua. Alhamdulillah, lumayan mengenyangkan. Di sana juga disediakan kopi dan teh. Aku pilih kopi. Sudah lama aku tidak minum kopi. Sejujurnya aku bukan pengopi, apalgi perokok. Yah, kangen aja pengen nyobain kopi lagi. Tidak lama kemudian, datang para panitia seksi konsumsi dalam acara tersebut keluar membawa nampan di kedua belah tangan mereka. Kemudian, meletakkan nampan-nampan itu di depan para penonton. Isi nampan itu aneka macam makanan rebus. Ada kacang tanah rebus, kentang, jagung, singkong, dan talas rebus. Awalnya, aku mengambil beberapa butir kacang tanah rebus dan sepotong jagung rebus. Kurang lebih 5 cm panjangnya jagung itu. 

Aku tidak kepikiran apapun ketika aku mengunyah makanan itu. Aku hanya mendengarkan dan berusaha memahami apa yang dikatakan oleh dalang seraya mataku menyaksikan wayang-wayang yang dimainkan olehnya. Aku tidak mengerti bahasa jawa halus sama sekali. Aku hanya mengerti bahasa jawa kasar, itu pun tidak 100% mengerti. Setelah makanan itu selesai kukunyah, kuambil lagi sepotong talas rebus. Pada saat tanganku mengupas kulitnya, tiba-tiba pikiran terbang jauh ke masa lalu. Dadaku berdebar sedikit lebih hebat. Tanganku agak gemetaran.

 Dulu, Bapakku punya kebun yang sangat luas yang jaraknya jauh dari rumah. Di sana ada kurang lebih 8 pohon rambutan yang besar-besar, pohon kecapi, melinjo, cabai, terong, pare, serai, lengkuas, jahe, tomat, kunyit, singkong, dan talas. Keberadaan kebun itu berikut isinya sangat membantu kehidupan kami. Jika musim rambutan tiba, bapak dan kakak-kakakku sibuk memetiknya, sementara ibu dan kakak perempuanku menunggu dibawah pohon rambutan bertugas mengikatnya. (mengikat rambutan tentunya, bukan mengikat bapak atau kakak laki-lakiku). Khusus aku bertugas megumpulkan rambutan yang telah dipetik serta menghitung jumlah ikatan buah rambutan itu. Baik bapak juga kakak, masing-masing mereka membawa korang dan gantar masing-masing. Korang adalah keranjang dari karung, sedangkan gantar ( galah dalam bahasa Indonesia) untuk memetik buah rambutan yang jauh dari jangkauan. Setelah korang itu penuh, akan diturunkan pelan-pelan. Sistemnya seperti kita menimba air. Setelah korang itu menyentuh tanah, kuambil korang itu, lantas kukeluarkan rambutan-rambutan itu di hadapan ibu dan kakak untuk diikat dan dijual ke tengkulak merupakan tujuan akhirnya. 

Jam 4 sore kami pulang ke rumah. Tidak cukup satu hari untuk memanen buah rambutan itu, bisa mencapai satu bulan. Kenapa ? Karena, buah itu tidak sekaligus matang secara bersamaan. Sebelum pulang ke rumah, bapak menggali talas. Sambil memasak, ibu merebus talasnya. Ba’da maghrib, selalu ada tetangga yang main ke rumah. Mereka ngobrol bersama bapak juga ibu. Nah, talas rebus itulah yang menemani mereka ngobrol, dibarengi kopi hitam dan radio (kadang-kadang). 

Waktu itu aku masih menyusu ke ibu. Aku belum sekolah. Kadang-kadang, kalo yang main ke rumah itu banyak, dan gak ada makanan di rumah, maka malam-malam itulah bapak dan teman-temannya pergi ke kebun untuk menggali talas. Kadang aku ikut, tapi lebih sering menyusu di ibu. Sering kali aku marah gara-gara ibu harus merebus talas malam-malam. Itu menggangguku yang sedang asyik menyusu. Tidak jarang aku menangis, hingga akhirnya bapaklah yang harus merbusnya sendiri. Membersihkan akarnya, mencucinya, menyalakan api di tungku (dulu belum jaman kompor gas, kompor minyak aja jarang). Kalo tidak bapak, kadang kakak perempuanku, kalo dia belum tidur. Tapi, setelah talas itu matang, aku pasti ikut memakannya. 



Biasanya, malam minggulah talas rebus itu lebih sering ada. Kalau tidak talas,pasti singkong rebus. Karena, malam minggu itu ada siaran langsung wayang golek di radio. Waktu itu, TV masih jarang sekali, bisan dihitung pake jari. Radio juga termasuk barang langka. Juga malam sabtu, ada acara dongeng di radio. Ya, dongeng. Kalo sekarang, mungkin semacam sinetron. Talas rebus, juga sering menemani bapak dan ibu ketika memanen padi. Dimasaknya pun lebih istimewa. Kalau bisanya dikukus dengan kulitnya, tapi kalau untuk teman memanen padi, kulitnya dikupas, talasnya dipotong-potong dengan ukuran yang lebih kecil, ditaburi parutan kelapa dan garam secukupnya. Kami menyebutnya talas urap. 

Beda lagi kalau di pagi hari. Pagi-pagi sekali bapak sudah pergi ke kebun. Apa lagi kalau bukan untuk menggali talas. Sementara ibu memasak air sambil merendam cucian dan menyapu halaman. Tidak lama kemudian, aku akan mencium aroma talas goreng disaat mataku masih tertutup dan tubuhku terbaring di kasur yang berkelambu. Aku langsung bangun, jalan ke dapur, makan talas goreng. 
“Hemhh, kebiasaan nih...bangun tidur langsung makan. Belum cuci muka, belum sikat gigi. Bapak juga belum makan. Selalu kamu yang duluan..” kata ibu sambil memasukkan talas ke wajan di sesi kedua. Sesi pertama sudah matang.

 “Pak, kupasin dong ?” pintaku ke bapak sambil memberinya talas rebus. “Kenapa sih Pak, gak nyoba nanem jagung aja ? Talas-singkong..talas-singkong....gak bosen apa ?”

 “Acang, jagung itu gak cocok ditanam di kebun kita. Lagian, talas itu labih awet. ” kata ayah sambil mengusap kepalaku. 

Pada saat aku mengupas talas di acara pertujukkan wayang tadi, aku inget Bapakku. Hampir saja aku menitikka air mata. Aku kangen Bapak yang telah pergi ke pangkuan-NYA di saat aku masih duduk di kelas 5 SD. Semoga Allah menempatkan Bapak di tempat yang luhur dengan segenap keridloan-NYA. NB : ternyata..wayang kulit itu dalam rangka ULANG TAHUNNYA SALAH SEORANG DOSEN JURUSAN SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS JEMBER.

Minggu, 18 November 2012



Saya setuju dengan pernyataan yang seperti ini "SERUAN, AJAKAN, ATAU PERINTAH TIDAK AKAN TERWUJUD JIKA TIDAK DIIRINGI DENGAN TINDAKAN DARI SI PENYERU ATAU SI PENGAJAK TERSEBUT, SEKALIPUN DIA BERKOAR-KOAR DALAM MENYERUKAN AJAKAN ITU"

Beberapa hari kemarin di otak saya ada yang berputar-putar gak jelas, yaitu sedikit ide tentang sedikit cara mengurangi sampah di sekitar kita, dunia pada umumnya. Amin.

Rabu, 14 November 2012

  Kayanya beban tersendiri buatku ketika berbicara tahun baru. Pasalnya, pikiranku langsung terbang ke masa satu tahun dan tahun-tahun sebelumnya. Banyak pertanyaan yang muncul. Seperti, apa aja yang udah aku lakukan di belakang? Apakah semua yang telah aku lakukan itu berarti? Apakah itu semua bermanfaat? Apakah itu menjadi penyebab tercapainya apa yang ingin kuraih di masa yang akan datang? Ah, pokoknya banyak dah ! Bingung dan malu menjawabnya. Aku sendiri tak mampu untuk menjawabnya.

Selain itu, ketika berbicara tentang tentang tahun baru, pastilah berbicara tentang Tahun Baru itu sendiri. Tahun yang baru dimulai, yang baru akan aku dan semua orang di dunia pijak, yang baru akan kita nikmati. Yang menjadi bahasan adalah, apakah yang akan aku lakukan paling tidak selama satu tahun ke depan ini? Apa resolusi satu tahun ke depan? Apa yang ingin di capai selama satu tahun ke depan ini? Lagi-lagi....aku bingung menjawab pertanyaanku sendiri.

Ada lagi pertanyaan yang menurutku lebih sulit lagi untuk di jawab, yaitu "APAKAH ARTI TAHUN BARU ?"  Aku harus menjawab apa coba? SUMPAH ! NGEBINGUNGIN !!!!!

Jangankan ditanya "apa yang akan di lakukan di tahun berikutnya", ditanya "apa yang akan dilakukan esok hari" aja aku sering tidak punya jawaban. Ada yang bilang, itu menandakan atau mencirikan orang-orang yang tidak punya tujuan. Aku tidak sepeuhnya setuju dengan pernyataan itu.

Semakin tahun bertambah, itu artinya usiaku juga semakin bertambah...sekaligus kesempatanku hidup di dunia juga semakin berkurang. Oke, usia. Sekarang 23, tahun depan 24.....bahkan ketika angka-angka itu berbalik menjadi 32, 42, dan seterusnya..... Apa yang ingin aku peroleh di angka-angka usia itu? Lagi,..bingung.

AKU MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1434 HIJRIYAH

SEMOGA, NASIB DAN TAKDIR KITA DI TAHUN-TAHUN SELANJUTNYA SEMAKIN INDAH, LEBIH BAIK, LEBIH MEMPESONA, LEBIH MENGESANKAN, LEBIH HEBAT, LEBIH MENGGAIRAHKAN......SECARA KONTINYU.....

 

Selasa, 13 November 2012

Gue lupa.....kapan ni peristiwa terjadi. Waktu itu perut gue berbunyi KRUYUUUUK. " O iya,gue belum makan dari pagi...." sambil menepak dahi.
"Mas Riski, aku minjem kontaknya (kunci sepeda mototr) dong?" kata gue ke Mas Riski yang lagi duduk di gazebo depan sekret.
 "Mau ke mana, Cang? " tanyanya.
"Mau beli makan, Mas..."
"Lho, kamu baru mau makan.....apa makan siang?"
"Baru mau makan, Mas..."
" Jam segini baru mau makan...?" mas Riski Heran seraya merogoh saku jaketnya untuk ngambil kontak motor. "Ini kontaknya..."
"Biasa Mas...sibuk ngerjain tugas..jadi lupa dah sama makan...hahaha" (Lupa makan apa pengiritan????)
Gue lari naik Jupiter-nya Mas Riski. Tiba-lah gue di salah satu warung lesehan di jalan jawa.
" Bu, lalapan telur satu...di bungkus" pinta gue ke Ibu penjual.
"Sek, yo dek...antri dulu" kata ibu-nya.
Emang banyak bgt orang yg lg ngantri di warles itu. Motor pembeli berjejer rapi di pinggir jalan depan tenda tu warles.
Sekitar 20 menit gue menunggu. Gue nunggu sambil duduk di kursi yang udah disediain. Motor gue parkirin agak jauh dari tenda. Lama-lama...tu deretan motor makin panjang. Soalnya, makin banyak orang yang memburu ke itu warles.
"Ini, Dek...." si ibu menyodorkan pesenan gue.
" O..iya, Bu...." gue seperempat kaget. Soalnya gue sibuk ngeliatin cewek-cewek yang seliweran pake hot-pants bawa motor matik-nya.
"Berapa, Bu" tanya gue ke ibu penjual.
" Empat ribu..."
"Ini Bu...pas ya..." gue ngasih uang pas. "Makasih, Bu....."
"Iya...sama-sama..."
Gue pergi menuju motor Mas Riski. Kontak-nya gue masukin ke lobang yang seharusnya.
"Kok, kuncinya gak pas ya..." batin gue. Tuh kontak..gue puter-puter. Puter kiri, puter kanan. Pas di starter...tetep gak idup tuh motor...
"Aduh gawat...jangan-jangan rusak lagi..." gue panik. "Gue gak punya duit kalo harus mengganti lobang kontak yang yg rusak" batin geu. Pokoknya gue panik dah....
Gue cabut tuh kontak dari lobangnya, gue masukkin lagi...terus gue puter-puter lagi....gue pencet Start....tuh motor tetep gak ngeluarin suara.
Tiba-tiba, salah seorang pembeli di warles itu sedikit teriak. "MAS,....." katanya.
Gue nengok ke arah asal suara. "ITU MOTOR SAYA...." ternyata orang itu manggil gue.
Gue nengok ke motor yang gue tunggangin. Ternyata di gantungan motornya ada mobil mainan. Sementara motor Mas Riski gak ada mobil mainannya.
"O iya.....maaf ya Mas...." gue manggut-manggut.
Muka gue langsung merah. Pasalnya....mata semua orang yang ada di situ melotot ke arah gue. Dikiranya gue mau maling motor kali ya...padahal gue salah naikin motor. Ternyata motornya Mas Riski yang gue bawa itu, tepat berada di sampingnya motor orang itu.
ARRRRRGHHH GUE MALU BEUUUDDT....
Akibat kelaparan apa emang dasar mata gue yang BAONG ya.....????????